Jumat, 11 Oktober 2013

MAKALAH
PENGUKURAN LAJU METABOLISME IKAN



 Created by : Miftakhatun            
                       B1J009128


I.              PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
         Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP
(Tobin, 2005).
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer Scholander. Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang akan diukur laju konsumsi oksigennya.
                                                      II. PEMBAHASAN

Respirasi merupakan proses pengambilan O2 dari lingkungan ke dalam tubuh hewan dan pengeluaran CO2 dari dalam tubuh ke lingkungan. Respirasi pada hewan air, contoh pada ikan meliputi ekstraksi atau pengambilan O2 dari perairan. Laju metabolisme pada ikan ditunjukkan dengan konsumsi O2 per unit waktu. Intensitas ikan dari pernafasan ikan menurun dengan peningkatan bobot ikan. Laju konsumsi O2 juga menurun dengan tersedianya kadar O2 yang sedikit untuk ikan. Pertumbuhan ambang batas konsentrasi O2 akan lebih tinggi pada suhu yang tinggi, bertepatan dengan laju konsumsi O2 yang lebih tinggi.perubahan yang sama dengan ambang peningkatan aktivitas atau laju pemberian makanan pada ikan. Konsentrasi O2 yang umum dalam air akan membatasi aktivitas ikan, termasuk mengembangkan makanan yang akan diubah menjadi daging ikan (Yuwono, 2001).
Oksigen adalah suatu zat yang sangat esensial bagi pernapasan dan merupakan komponen yang utama bagi metabolisme ikan dan organisme perairan lainnya Parameter kualitas air mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan ikan adalah suhu selama penelitian diperoleh 25 – 27 0C, suhu air juga merupakan salah satu faktor yang banyak mempengaruhi penggunaan oksigen terlarut dalam air, namun suhu air yang diperoleh tersebut masih normal dan dalam kisaran suhu yang dapat ditolerir oleh ikan (Fathuddin, 2002).
Konsumsi oksigen digunakan sebagai indikator metabolisme pada ikan, dan perbedaan salinitas mempengaruhi energi yang dibutuhkan untuk osmoregulasi pada beberapa spesies. Respon respirasi berbeda dengan perbedaan salinitas  diantara spesies teleos. Angka konsumsi oksigen rendah diperoleh pada salinitas isosmosis. Angka konsumsi oksigen rendah pada air tawar dan pemakaiannya meningkat dengan menambah salinitas. Hal ini menunjukkan bahwa ikan di air laut mempunyai angka konsumsi oksigen lebih rendah dibandingkan di air tawar (Tsuzuki et al., 2008)
n  Laju metabolisme baku (standard metabolic rate) merupakan laju metabolisme hewan manakala hewan tersebut sedang beristirahat dan tidak terdapat makanan didalam ususnya.
Manakala pengukuran laju metabolisme tengah dilakukan, jarang sekali hewan dalam keadaan diam è laju metabolisme rutin =  diukur selama level aktivitas rutin è hasil pengukuran biasanya lebih tinggi Metode pengukuran...
n  menghitung selisih  energi ( makanan ) yang masuk  dan  ekskreta terutama urin dan feses.
n  menghitung produksi panas total pada organisme, metode ini sangat akurat dalam memeberikan informasi tentang bahan bakar yang digunakan, organisme yang diukur dimasukkan dalam kalorimeter;
n  menghitung jumlah oksigen untuk proses oksidasi atau konsumsi oksigen, cara ini paling banyak digunakan dan mudah dilaksanakan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain umur, jenis kelamin, status reproduksi, makanan dalam usus, stress fisiologis, aktivitas, musim, ukuran tubuh dan temperatur lingkungan (Tobin, 2005).
Metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya oksigen yang terlarut di dalam air (Anonim, wikipedia.org). Dalam metode ini, kadar Oksigen dalam air ditentukan dengan cara titrasi. Titrasi merupakan penambahan suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan lain yang tidak diketahui konsentrasinya secara bertahap sampai terjadi kesetimbangan (Chang, 1996).



                                                      III.           KESIMPULAN
1.     Konsumsi oksigen pada jenis ikan berbeda-beda. Adapun faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen adalah temperatur, ukuran tubuh, aktivitas yang dilakukannya, jenis kelamin, nutrisi, dan umur.


 Daftar Pustaka
Chang, R. 1996. Essential Chemistry. Mc Graw Hill Company, Inc, USA.
Seeley, R.R., T.D. Stephens, P. Tate. 2003. Essentials of Anatomy and Physiology
fourth edition. McGraw-Hill Companies
Tobin, A.J. 2005. Asking About Life. Thomson Brooks/Cole, Canada.
Anonim. http://www.wikipedia.org. 













MIKROPALEONTOLOGI

RANGKUMAN MATERI MIKROPALEONTOLOGI
MATERIAL BUMI DAN JENIS-JENIS BATUAN

Created by : MIFTAKHATUN
           B1J009128


Jenis-Jenis Batuan
Batuan merupakan material bumi yang terdiri dari satu atau lebih mineral, terbentuk di alam dan tidak hidup. Berdasarkan genesanya, batuan dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu:
       a.      Batuan Beku
Batuan beku  adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).

Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat dilapangan saja, misalnya:
• Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.
• Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu:
• Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku.
• Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.
• Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar dan menunjukkan arah yang tidak teratur.
• Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.
• Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintrusi.
• Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).
Komposisi Mineral
Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
• Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.
• Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.
Batuan ini mempunyai empat jenis tekstur  yaitu       :
·         Gelas (glassy) yakni tekstur yang tidak berbutir atau tidak mempunyai x’tal, amorf.
·         Afanitik (aphanitic) atau disebut juga fine grain texture, berbutir sangat halus dan tidak terlihat tanpa alat pembesar.
·         Faneritik (phaneritic) atau disebut juga coarse grain texture, berbutir cukup besar, terlihat tanpa alat.
·         Porfiritik (porphyritic) batuan dengan teksture ini mempunyai dua ukuran x’tal yang dominan.
Disamping itu, batuan beku juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
·         Batuan beku dalam (intrusif), mendingin dan membeku sangat lama (106 tahun), bentuk x’tal besar dan sempurna(faneritik)
·         Batuan Beku luar (ekstrusif), mendingin dan membeku sangat cepat (P dan T di atmosfir) x’tal sangat halus / amorf.
b. Batuan Sedimen
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari sedimen (rombakan dari batuan yang telah ada) yang ditransport oleh air, udara dan grafitasi dan diendapkan di darat atau air dan telah mengalami proses diagenesa. Batuan sedimen dibedakan menjadi dua.


 Ø  batuan sedimen klasik, terdiri dari material pecahan/hancuran batuan atau mineral yang sudah ada sebelumnya.
 Ø  Batuan sedimen nonklastik, Pengendapan akibat perubahan kondisi kimia oleh penguapan atau oleh proses biokimia. kondisi kimia yang dimaksud adalah PH lingkungan media pengangkutnya (air).
Sifat utama batuan sedimen adalah berlapis sehingga membentuk bidang-bidang perlapisan. Bidang perlapisan merupakan perbedaan sifat fisik warna, besar butir, dan litologi. Kedudukan bidang perlapisan dinyatakan dengan Jurus(strike) dan Kemiringan (dip). Jurus merupakan kedudukan searah garis perpotongan bidang di alam dengan bidang horizontal. Sedangkan kemiringan maksudnya sudut terbesar antara bidang dialam dengan bidang horizontal.
 Struktur sedimen
•         Bedding – Perlapisan
•         Graded bedding – Lapisan bersusun
•         Riple mark – Gelembur gelombang
•         Cross bedding– Silang siur
•         Mud cracks – Rekah kerut
c. Batuan Malihan (metamorfosa)
Batuan yang telah mengalami perubahan akibat tekanan dan atau suhu yang tinggi tanpa melalui lelehan [T>2000C & P>300Mpa]. Pada suhu dan tekanan rendah (normal) berlangsung diagenesa dan pelapukan. Sedangkan Metamorf dan lelehan berlangsung bersama pada suhu tertinggi.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses metamorphose :
•           Cairan yang mempengaruhi reaksi kimia. Larutan gas, garam, mineral terlarut mempercepat pertukaran unsur, mineral           larutan
•         Suhu dan tekanan, membentuk himpunan mineral-mineral baru dari yang semula sudah ada
•         Waktu, mempengaruhi besar butir mineral yang terbentuk
Berdasarkan batuan asalnya, batuan metamorf dibedakan menjadi 3 jenis.
•         Serpih dan mudstone : filit, sekis dan gneiss
•         Basalt : sekis hijau, amfibolit dan granulit
•         Batugamping dan batupasir : marmer dan kwarsit
Metamorfisme sendiri dibedakan menjadi empat.
•         Metamorfisme Kataklastik (jarang terjadi)
            Deformasi mekanik pada metamofisme thd. batuan regas menghasilkan hancuran tidak terjadi rex’talisasi bila berlanjut fragmen menjadi lonjong.
•         Metamorfisme Kontak, akibat kenaikan suhu  (intrusi magma), terjadi rex’talisasi kimia disekitar intrusi, metamorfisme aureole.
•         Metamorfisme Timbunan (burial), akibat tertimbun sangat dalam, suhu 3000C, kelompok mineral zeolit.
•         Metamorfisme regional, pada kerak benua, sangat luas.
Pelapukan
Pelapukan atau weathering (weather) merupakan perusakan batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dibagi dalam tiga macam, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.
1.      Pelapukan Mekanis
Pelapukan mekanis atau sering disebut pelapukan fisis adalah penghancuran batuan secara fisik tanpa mengalami perubahan kimiawi. Penghancuran batuan ini bisa disebabkan oleh akibat pemuaian, pembekuan air, perubahan suhu tiba-tiba, atau perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam.
2.      Pelapukan Kimiawi
Pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Biasanya yang menjadi perantara air, terutama air hujan. Tentunya Anda masih ingat bahwa air hujan atau air tanah selain senyawa H2O, juga mengandung CO2 dari udara. Oleh karena itu mengandung tenaga untuk melarutkan yang besar, apalagi jika air itu mengenai batuan kapur atau karst. Batuan kapur mudah larut oleh air hujan. Oleh karena itu jika Anda perhatikan pada permukaan batuan kapur selalu ada celah-celah yang arahnya tidak beraturan. Hasil pelapukan kimiawi di daerah karst biasa menghasilkan karren, ponor, sungai bawah tanah, stalagtit, tiang-tiang kapur, stalagmit, atau gua kapur.
3.      Pelapukan Biologis
Mungkin Anda pernah melihat orang sedang memecahkan batu. Batu yang besar itu dihantam dengan palu menjadi kerikil-kerikil kecil yang digunakan untuk bahan bangunan. Atau mungkin Anda pernah melihat burung atau binatang lainnya membuat sarang pada batuan cadas, lama kelamaan batuan cadas itu menjadi lapuk. Dua ilustrasi ini merupakan contoh pelapukan biologis. Pelapukan biologis atau disebut juga pelapukan organis terjadi akibat proses organis. Pelakunya adalah mahluk hidup, bisa oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, atau manusia. Akar tumbuh-tumbuhan bertambah panjang dapat menembus dan menghancurkan batuan, karena akar mampu mencengkeram batuan. Bakteri merupakan media penghancur batuan yang ampuh. Cendawan dan lumut yang menutupi permukaan batuan dan menghisap makanan dari batu bisa menghancurkan batuan tersebut.
Stratigrafi
            Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antarlapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi (litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas peny

Sabtu, 22 Oktober 2011


REGENERASI
























Oleh:
Nama           : Miftakhatun
NIM             : B1J009128
Rombongan            : I
Kelompok    : 2
Asisten         : Andrian Putra Bahari







LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II




KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Praktikum regenerasi kali ini hewan yang digunakan adalah cicak dan kecoa. Pemilihan hewan tersebut sebagai hewan uji, karena hewan tersebut dapat mengalami proses regenerasi. Selain itu, dalam proses regenerasinya membutuhkan waktu yang cukup singkat. Pengamatan hewan tersebut dirasa lebih mudah, karena bahannya mudah didapat dan perawatannya dapat dilakukan dengan sederhana dan mudah diamati. Praktikum regenerasi ini dilakukan untuk mengetahui proses pembentukan pada ekor dan kaki hewan uji yang telah di potong.
Regenerasi terjadi secara luas pada kingdom Animalia. Bagian tubuh yang hilang dapat bermacam – macam. Timbulnya bagian yang hilang tersebut dari sel cadangan khusus, persisten embrional sel dan sel yang terdiferensiasi kemudian dikenal dengan rudimen atau blasterma. Regenerasi merupakan penggantian bagian tubuh yang rusak atau lenyap. Kemampuan hewan tersebut meregenerasi bagian yang hilang dari suatu spesies. Hewan yang mengalami segenerasi diantara lain adalah cicak dan kecoa. Selain hewan tersebut, terdapat hewan lain yang mengalami regenerasi yaitu geranium, hydra, euplanaria, udang, crustasea, dan beberapa hewan lainnya.
Pemutusan ekor cicak pada umumnya merupakan proses untuk mempertahankan diri atau disebut proses autonom. Saat cicak merasa terancam oleh musuh, maka ia akan dengan segera melepaskan ekornya, dari ekor yang telah terputus tersebut dapat tumbuh kembali, dan hal ini yang disebut proses regenerasi. Cicak akan memutuskan ekornya bila merasa dirinya dalam keadaan bahaya atau menghadapi musuh. Ekor yang diputuskan tersebut akan tergantikan kembali melalui proses regenerasi organ yang memerlukan waktu tertentu dalam proses pembentukannya. Sedangkan apabila kecoa merasa dirinya dalam kedaan bahaya maka kecoa akan memutuskan kakinya bagian femur. Oleh karena itu pada percabaan ini daerah pemotogan pada cicak dan kecoa dilakukan pada ekor dan kaki dikarenakan ekor cicak dan kaki kecoa memiliki daya regenerasi atau kemampuan regenerasi yang tidak terbatas pada tingkat sel atau jaringan, tetapi juga mencakup pada tingkat organ. Pemotongan  daerah pada cicak dan kecoa berbeda karena untuk melihat daerah pemotongan mana yang lebih cepat pertumbuhannya.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum regenerasi kali ini adalah untuk menyusun rangkaian perkembangan penyembuhan dan pembentukan kembali ekor pada ujung ekor cicak (Hemidactylus frenatus)  dan ujung kaki kecoa (Periplaneta americana) yang terpotong.


II. TINJAUAN PUSTAKA
Regenerasi merupakan penggantian bagian tubuh yang rusak atau lenyap. Kemampuan hewan untuk meregenerasi bagian yang hilang sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Penyembuhan luka pada cicak diawali dengan pertumbuhan kulit di atas luka tersebut, kemudian suatu tunas sel-sel yang belum berdiferensiasi terlihat. Dediferensiasi berarti sel – sel ini kehilangan struktur diferensiasinya sebelum berperan dalam tugas regenerasi. Sel – sel dari anggota tubuh yang sedang beregenerasi diatur dan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang, dan jaringan lainnya kemudian menjadi organ yang fungsional (Kimball, 1983).
Regenerasi terhadap pemutusan ekor cicak juga diikuti dengan proses autotomi yang merupakan proses adaptasi yang membantu hewan untuk melepaskan diri dari serangan musuh. Cicak akan dengan segera melepaskan ekornya jika ada serangan dari musuh, dari ekor yang telah terputus tersebut dapat tumbuh kembali dengan pertumbuhan ekor yang lebih pendek dari ekor semula (Storer, 1981).
Proses pemotongan atau perusakan bagian tubuhnya dan dapat tumbuh kembali dengan mengadakan fragmentasi/penyembuhan seperti semula. Proses pemutusan yang memiliki daya fragmentasi tinggi adalah golongan hewan tingkat rendah. Selain fragmentasi yang dimilikinya mereka juga memiliki gerakan yang lambat. Contoh dari hewan – hewan tersebut ialah Geranium, Hydra, Euplanaria, appendasis, udang, crustasea, cicak, dan salamander. Proses reparasinya disebut dengan autotomi. Adapun prosesnya yaitu sesuai dengan teori gradent axial, yang merupakan bagian anterior dan posterior (Kastowo, 1982).
Studi regenerasi mengungkapan bahwa sel – sel dewasa dari jaringan tertentu yang telah berdiferensiasi, misalnya epidermis, mensintesis, dan menghasilkan zat yang secara aktif menghambat mitosis sel – sel muda dari jaringan yang sama, zat ini disebut kalona. Stadium permulaan dari regenersi tidak ada sel dewasa sehingga tidak ada penghambatan pembelahan sel. Jaringan dari struktur yang telah mengalami regenerasi berdiferensiasi, mulailah produksi kalona dan agaknya secara berangsur menghentikan pertumbuhan struktur tersebut (Kimball, 1983).
Blastema merupakan proses pembentukan kuncup regenerasi pada bagian permukaan bekas luka. Blastema ini juga berasal dari penimbunan sel – sel diferensiasi atau sel – sel satelit pangembara yang ada di jaringan terutama yang ada di dinding kapiler darah. Bagian blastema ini akan berhenti jika terjadinya rediferensiasi sel – sel, karena sel – sel yang berasal dari parenkim akan tumbuh menjadi alat derivat mesodermal, jaringan syaraf, dan saluran pencernaan. Bagian yang terpotong akan tumbuh lagi sesuai struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya (Balinsky, 1983).
Regenerasi yang terjadi pada hewan dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama regenerasi epimorfosis, yang mana pada regenerasi ini melibatkan dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang belum terdiferensiasi yang kemudian direspesifikasi. Regenerasi ini khas pada regenerasi membra. Tipe regenerasi yang kedua adalah regenerasi mofolaksis yang terjadi lewat pemolaan kembali jaringan yang masih ada (tersisa), yang tidak disertai dengan pembelahan sel. Hydra adalah contoh dari regenerasi ini. Regenerasi yang terakhir yaitu regenerasi intermediet, yang diduga sebagai regenerasi konpensatori. Regenerasi ini sel – selnya membelah, tetapi mempertahankan fungsi sel yang telah terdiferensiasi. Mereka memproduksi sel – sel serupa pada dirinya sendiri dan tidak membentuk masa jaringan yang belum terdiferensiasi. Tipe regenerasi kompensatori ini khas pada hati manusia (Soeminto, 2003).
Proses regenerasi tahap pertama dari perbaikan kerusakan ekor cicak adalah sel epidermis dari bagian luka menyebar di seluruh luka dan segera mungkin menutupi permukaan luka. Selama beberapa hari penutupan luka dari sel epidermis ini menjadi tudung epidermis apical. Sel-sel yang banyak terkumpul di bawah epidermis. Semua jaringan dibawah tudung mengadakan dediferensiasi dan regenerasi membentuk sel kerucut yang disebut blasterma regenerasi atau tunas regenerasi. Blasterma tersebut tumbuh dengan cepat, dimana pada saat pertama berbentuk kerucut, tetapi kemudian pada akhirnya menjadi flattened dorsoventral. Kemudian setelah periode proliferasi, sel blasterma mengadakan dediferensiasi dan memperbaiki ekornya. Bagian yang terpotong inilah yang disuplai darah dan dapat beregenerasi (Kalthoff,1996)

III.  MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum regenerasi kali ini adalah dua buah botol mineral ukuran 600 ml yang telah diberi lubang, millimeter blok, dan  gunting.
Bahan yang digunakan dalam praktikum regenerasi kali ini adalah dua ekor cicak dan dua ekor kecoa.

B. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum regenerasi kali ini, antara lain :
1.      Cicak dan kecoa disiapkan dan dimasukkan ke dalam botol.
2.      Bagian ekor cicak dan kaki kecoa diukur terlebih dahulu untuk mengetahui panjang awal.
3.      Ekor cicak menggunakan gunting dengan dipotong  ½ bagian.
4.      Kecoa yang dipotong kakinya dengan pemutusan pada ruas ke-4 (dekat ujung kaki).
5.      Sisa bagian dari ekor cicak dan kaki kecoa yang telah dipotong diukur panjangnya sebagai panjang sisa.
6.      Ekor cicak dan kaki kecoa diamati perpanjangannya selama tiga minggu dihitung dari awal praktikum regenerasi.
7.      Cicak dan kecoa diberi makan dengan nasi atau remah – remah makanan selama tiga minggu.
8.      Pertumbuhan ekor dan kakinya diukur dan dicatat setiap minggu selama tiga minggu pengamatan.
9.      Perpanjangan yang terbentuk difoto sebagai perbandingan dengan panjang awal pemotongan.
           






















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Gambar 1. Gambar Regenerasi Cicak

          
Keterangan :
Gambar A. Awal pemotongan ekor cicak
Gambar B. Pertumbuhan ekor cicak minggu 1
Gambar C. Pertumbuhan ekor cicak minggu 2
Gambar D. Pertumbuhan ekor cicak minggu 3








Gambar 2. Gambar Regenerasi Kecoa



 



A


 




B











Keterangan :
Gambar A. Awal pemotongan kaki kecoa
Gambar B. Pertumbuhan kaki kecoa minggu 1
Gambar C. Pertumbuhan kaki kecoa minggu 2
Gambar D. Pertumbuhan kaki kecoa minggu 3












Tabel 1. Pertumbuhan Ekor Cicak

Keterangan
Data Pribadi
Pemutusan Alami
Kel I
Pemutusan Mekanik (bagian yang dipotong)
Tepat garis NGF
Kel II
1/4 bagian
Kel III
1/2
bagian
Kel IV
1/3
bagian
Kel V
Panjang awal (mm)
45
45
45
40
60
65
Panjang sisa (mm)
3
2
3
37,5
30
45
Minggu I (mm)
5
3
5
38,5
33
45
Minggu II (mm)
7
3
7
40,5
35
46
Minggu III (mm)
8
2
8
42,6
37
mati

Tabel 2. Pertumbuhan Kaki Kecoa
Keterangan
Data Pribadi
Pemutusan
Ruas I
Pemutusan
Ruas II
Pemutusan
Ruas III
Pemutusan
Ruas IV
Pemutusan
Ruas V
Minggu I (mm)
1
1
1
5
1
1
Minggu II (mm)
1
1,2
1
5
1
1
Minggu III (mm)
2
1
2
3
mati
mati
Tabel 3. Kecepatan Pertumbuhan Organ yang Diamputasi
Kel
Organ Hilang
Minggu I
(mm/minggu)
Minggu II
(mm/minggu)
Minggu II
(mm/minggu)
I
Ekor cicak
1
mati
mati
Kaki kecoa
1
1,2
1
II
Ekor cicak
1
3
1
Kaki kecoa
1
1
2
III
Ekor cicak
1
2
2,1
Kaki kecoa
5
5
1
IV
Ekor cicak
3
2
2
Kaki kecoa
1
1
mati
V
Ekor cicak
0
1
mati
Kaki kecoa
1
1
mati



B. Pembahasan
Percobaan dilakukan dengan cara memberlikan lima perlakukan pada cicak yaitu pemutusan secara alami, pemutusan tepat pada garis NGF (Nerve Growth Factor), pemutusan pada ¼ bagian ekor, pemutusan pada ½ bagian ekor, dan pemutusan pada 1/3 bagian ekor. Perlakuan yang diberikan pada kecoa hanya satu macam perlakuan saja yaitu pemotongan pada ruas femur. Kecoa dan cicak diamati perkembangannya selama tiga minggu, setelah tiga minggu bagian yang dipotong mengalami pertumbuhan kembali.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok diperoleh hasil yaitu setelah tiga minggu ekor cicak yang dipotong sepanjang ½ bagian tumbuh 7 mm dari panjang sisa 30 mm menjadi 37 mm. Ekor yang putus tersebut tumbuh tetapi tidak sama seperti semula. Pengamatan minggu I, ekor cicak bertambah panjang 3 mm, minggu ke II bertambah 2 mm dan minggu ke II bertambah 2 mm.  Pada pemutusan ekor secara alami didapatkan panjang ekor sisa sebesar 2 mm dan pada minggu I sebesar 3 mm dan pengamatan tidak dilanjutkan karena cicak mati, pertambahan panjang ekornya sebesar 1 mm. Pemotongan pada daerah NGF diperoleh hasil akhir 8 mm dari panjang sisa 3 mm, berarti pertambahan panjang ekor sebesar 5 mm. Pemotongan ekor pada ¼ bagian ekor diperoleh panjang akhir 42,6 mm dari panjang sisa 37,5 mm sehingga ekor bertambah panjang 5,1 mm. Pemotongan pada 1/3 bagian diperoleh hasil akhir sebesar  46 mm dari panjang sisa 45 mm sehingga pertumbuhan panjang ekornya sebesar 1 mm. Berdasarkan hasil, diperoleh data bahwa petumbuhan ekor cicak yang paling cepat adalah pemutusan ½ bagian ekor, yaitu sebesar 7 mm selama 3 minggu. Perbandingan hasil dari perlakuan pemotongan ekor cicak yang berbeda-beda, dapat terlihat bahwa pemotongan ekor cicak pada bagian yang dekat dengan daerah NGF mengalami pertumbuhan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan pemotongan ekor cicak pada bagian yang lebih jauh dari daerah NGF (Kalthoff, 1996). Berdasarkan hasil pengamatan pribadi diperoleh hasil yaitu setelah tiga minggu kaki kecoa yang dipotong dengan titik pemotongan ruas IV mengalami pertumbuhan. Pengamatan minggu I, kaki kecoa mengalami pertambahan panjang 1 mm, minggu ke II kaki kecoa mengalami bertambahan panjang 1 mm dan minggu ke III kecoa mati.








Gambar Skematis Pertumbuhan Ekor Cicak dan Kaki Kecoa
Pengamatan yang dilakukan selama 3 minggu terhadap pertumbuhan ekor cicak dan kaki kecoa yang diamputasi secara mekanik ternyata tidak menunjukkan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya, penambahan panjang bagian yang teramputasi berbeda dengan sebelum teramputasi, dan dari data diperoleh diketahui bahwa pertumbuhan ekor cicak pasca amputasi sangat lambat. Regenerasi dapat terhalang apabila luka segera ditutupi oleh kulit seperti yang ditemukan pada katak, kulit segera menutupi luka karena itu jika kaki katak diamputasi tidak akan terjadi regenerasi, karena kulit akan segera menutup luka itu. Pergerakan dermal dapat dicegah dengan memberi larutan garam. Regenerasi dapat terjadi jika epidermis kulit yang luka tidak menutupinya. Kulit mengandung suatu zat yang dapat memblokir proses regenerasi. Terjadinya regenerasi perlu kehadiran urat syaraf. Regenerasi tidak akan berlangsung jika syaraf anggota dipotong pada waktu larva, kemudian anggota diamputasi. Diferensiasi terus berlangsung, tetapi selnya diabsorpsi dan akhirnya proses regenerasi berhenti (Balinsky, 1983).
Cicak dapat melakukan pertahanan diri dengan melakukan autotomy, yaitu pemutusan ekor secara alami. Ekor pada cicak bukan hanya berfungsi untuk autotomi dan lokomosi saja tetapi juga melakukan fungsi sinyal interspesifik dan berkelahi. Konsekuensi dari melakukan autotomy, ia harus dapat melakukan pembentukkan kembali ekornya, karena fungsi ekor yang cukup vital baginya. Terdapat tiga tahap utama dalam regenerasi yaitu insiasi pada bagian yang mengalami kerusakan diperbaiki, sel-sel disekitar bagian yang mengalami kerusakan ber-dediferensiasi dan membentuk blastema regenerasi, dan struktur kompleks ekor yang telah terbentuk kembali akan tumbuh memanjang (Clause, 2006).
Selama proses pemeliharaan dan pengamatan, cicak diberi pakan berupa remah roti dan nasi dan minum. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan cicak tidak memakan makanannya dan tubuhnya pun semakin kurus dari hari ke hari, hal ini dikarenakan cicak mengalami stress hingga menyebabkan kematian.
NGF (Nerve Growth Factor) adalah faktor yang memiliki pengaruh terhadap kecepatan regenerasi pada cicak dan kecoa. Proses laju regenerasi akan lebih cepat bila pemotongan didekat Nerve Growth Factor. Nerve Growth Faktor merupakan syaraf yang menstimulasi pertumbuhan bagian tubuh yang mengalami kerusakan atau amputasi dan akan menggerakkan sel-sel disekitarnya untuk berkonsentrasi melakukan perbaikan (Clause, 2006).
V.      KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan


Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.      Regenerasi adalah suatu proses untuk memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau lepas kembali seperti semula.
2.      Proses-proses umum yang terjadi pada regenerasi meliputi pembentukan tudung ektodermal apikal, terbentuknya jendalan plasma, migrasi sel-sel epidermal menutupi permukaan luka yang membentuk epidermis luka, epidermis luka membentuk ektoderma apikal, sel-sel yang telah terdiferensiasi kehilangan cirri-ciri deferensiasinya, terbentuk zona progress mesenkhim membra embrionik, blastema regenerasi akan berdiferensiasi kembali untuk membentuk struktur-struktur baru membra yang hilang.

B.     Saran

Kesulitan-kesulitan yang dialami saat melakukan praktikum adalah sulitnya memelihara cicak sehingga banyak yang mati. Proses pemeliharaan cicak harus di perlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam pemberian makan agar cicak dapat bertahan hidup.




DAFTAR REFERENSI
Balinsky, B. I. 1983. An Introduction to Embriology. WB Saunders College Publishing, London.

Clause, Amanda R and Capaldi, Elizabeth H. 2006 Caudal Autotomy and Regeneration in Lizard. 970-971.

Kalthoff, K. 1996. Analysis of Biological Development. McGraw-Hall Inc, New York. Kastowo, H. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung.

Kastowo, H. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung.

Kimball, J. W. 1983. Biologi 2 edisi 1. Erlangga, Jakarta.

Radiopoetro, 1986. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Soeminto. 2003. Perkembangan Organ. Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Storer, T. I. 1981. Element of Zoology. Mc Graw-Hill Book Company Inc, New York.

Soeminto, 2010. Diktat Praktikum Struktur Perkembangan Hewan II. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.